Senin, 01 Desember 2025

Problematika PKL Di DKI Jakarta Dari Masa Ke Masa

 Masalah PKL Kuliner Dan Solusinya


Jika ada diantara kita yang sudah pernah ke negeri tetangga seperti Singapura dan Malaysia, untuk urusan cari makan biasanya kita akan menjelajahi pusat kuliner khas setempat tetapi tentunya dengan harga jual yang bersahabat, maklum saja.... apalagi di Singapura, depresiasi nilai tukar mata uangnya  yang cukup besar sehingga harga-harga, khususnya makanan, dirasakan mahal. 

Lokasi kuliner disana sudah terlokalisir dan tertata rapi, sehingga tidak memberi kesan kumuh. Tempat nya bersih dan nyaman, walau tidak berpenyejuk ruangan (AC). lokasi nya bukan berada diatas trotoar yang notabene adalah jalur pedestrian, yang merupakan hak dari pejalan kaki.  Higienitas nya terjaga, sehingga memberikan keyakinan kepada konsumen bahwa makanan yang disajikan memang telah sesuai dengan standar yang berlaku dan terhindar dari kontaminasi.

Pemilihan lokasi berdasarkan pengamatan, berada di area yang cukup ramai, tetapi terlokalisir tempatnya seperti di hoek (pojokan), atau area tertentu yang entah di fasilitasi atau mungkin ada beberapa pedagang bersama-sama menyewa tempat untuk berdagang disana. 

Peralatan dan meja penyajian (gerobak) hampir semua terbuat dari bahan stainless steel, sehingga memberikan kesan bersih dan rapi. Selain itu, mudah dibersihkan saat setelah selesai berdagang. 

Selesai berdagang, gerobaknya tidak didorong-dorong, tapi tetap terparkir di lokasi semula yang tampaknya memang sudah ditetapkan sejak awal mulai berdagang di lokasi tersebut. Sehingga tidak perlu berpindah-pindah tempat.

Dan memang rupanya, para PKL kuliner tersebut memang tidak boleh berpindah tempat sesukanya. Karena mereka semua telah teregistrasi dan secara berkala mendapatkan pembinaan dan pengawasan dari pihak berwenang yang terkait. 

Dengan terlokalisinya para PKL kuliner tersebut, maka akan memudahkan pihak berwenang melakukan pengawasan dan pembinaan. Pengawasan dimulai dari sumber air yang digunakan untuk mencuci dan memasak; bahan-bahan makanan yang untuk diolah, cara pengolahan dan penyajian, dan seterusnya yang berkaitan. 

Di setiap lokasi PKL kuliner tersebut sudah tersedia sumber air bersih untuk keperluan cuci mencuci dan kebutuhan lainnya.

Pada akhirnya, konsumen tidak merasa kuatir untuk menikmati santapan yang dijual disana, karena yakin dengan kebersihan dan keamanannya. 

Hal yang berbeda  kita jumpai di Jakarta dan hampir seluruh kota di NKRI. Umum dijumpai  PKL kuliner yang mendorong atau memikul dagangannya ke lokasi jualan, tersering di atas trotoar dan fasilitas umum seperti taman dan terminal atau dimanapun lokasinya, terutama yang banyak orang lalu lalang atau saat ada peristiwa keramaian di satu tempat. 

Cara PKL kuliner berdagang berkeliling sudah tidak ada lagi di Singapura sejak akhir tahun 1970-an. Sangat kontras dengan kondisi PKL kuliner kita yang sampai dengan saat ini masih tidak banyak ada perubahan. Jika memakai Singapura sebagai pembanding, maka Jakarta sudah tertinggal lebih dari setengah abad!!  

Sejak 1960-an dan seterusnya, penjual makanan jalanan Singapura ditempatkan di pusat jajanan yang dibangun khusus di seluruh negara. Fasilitas itu dilengkapi dengan air yang mengalir, listrik, drainase, dan alat penghisap asap. Seiring dengan fasilitas baru itu, dibuat juga sejumlah peraturan.

Dari sisi legalitas, sebenarnya Jakarta sebagai Ibukota NKRI sudah memiliki Peraturan daerah (Perda) pertama yang secara khusus mengatur tentang Pedagang Kaki Lima (PKL) di DKI Jakarta, baru diterbitkan tahun 1978,  di era kepemimpinan Gubernur Tjokropranolo.

Peraturan tersebut adalah Perda No. 5 Tahun 1978 tentang Pengaturan Tempat dan Usaha serta Pembinaan Pedagang Kaki Lima dalam Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota. 

Sejak saat itu, kebijakan penataan PKL terus mengalami perkembangan dan perubahan, termasuk:

    Pada tahun 2020, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan memang pernah mewacanakan dan mengkaji penerbitan Peraturan Gubernur (Pergub) baru untuk mengatur Pedagang Kaki Lima (PKL), termasuk mengizinkan mereka berdagang di trotoar tertentu. 

    Namun, tidak ditemukan bukti bahwa Pergub baru yang secara spesifik melegalkan PKL di trotoar tertentu telah diterbitkan pada tahun 2020. Wacana tersebut merujuk pada landasan hukum yang sudah ada sebelumnya, yaitu Pergub DKI Nomor 10 Tahun 2015 tentang Penataan dan Pemberdayaan PKL dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03 Tahun 2014, yang dinilai memungkinkan pengaturan tersebut. 

    Poin-poin utama dari wacana tersebut meliputi:
    • Trotoar Multifungsi: Anies Baswedan berencana membuat trotoar memiliki fungsi lebih dari satu, tidak hanya untuk pejalan kaki, dengan merujuk pada Peraturan Menteri PUPR.
    • Syarat dan Ketentuan: PKL diizinkan berjualan dengan syarat tidak mengganggu pejalan kaki. Trotoar yang diizinkan harus memiliki lebar lebih dari 5 meter dan lokasinya akan ditentukan oleh Wali Kota setempat.
    • Status Aturan: Wacana ini mendapatkan sorotan karena Peraturan Daerah (Perda) DKI Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum secara jelas melarang penggunaan trotoar untuk berjualan. 

    Jadi, yang ada pada tahun 2020 itu hanyalah wacana penerbitan pergub baru dan penafsiran terhadap aturan yang sudah ada, tetapi tidak ada pergub baru yang secara eksplisit melegalkan PKL di trotoar tertentu. Larangan berjualan di trotoar tetap berlaku berdasarkan Perda yang telah ada sebelumnya 

    Peraturan yang utama mengatur tentang PKL di DKI Jakarta saat ini adalah Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 10 Tahun 2015 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima. Pergub ini menjadi dasar hukum yang lebih spesifik untuk penataan, pemberdayaan, pendataan, dan penentuan lokasi usaha PKL. Dasar hukum yang lebih tua yang juga masih relevan adalah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, yang mengatur tentang tempat usaha PKL di Pasal 25. 

    Tetapi keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jakarta masih terus ada meskipun sudah ada Peraturan Daerah (Perda) disebabkan oleh berbagai faktor kompleks, mencakup aspek ekonomi, sosial, dan implementasi kebijakan. 

    Beberapa alasan utama meliputi:

    • Faktor Ekonomi dan Keterbatasan Lapangan Kerja:
      • Minimnya Lapangan Kerja Formal: Salah satu penyebab utama munculnya PKL adalah terbatasnya penyerapan tenaga kerja di sektor formal sementara jumlah angkatan kerja tinggi, terutama akibat urbanisasi. Menjadi PKL adalah salah satu jalan pintas bagi masyarakat dengan modal terbatas untuk mendapatkan penghasilan.
      • Dampak Penertiban: Penertiban PKL sering kali berdampak langsung pada kondisi sosial dan ekonomi mereka, menyebabkan kehilangan mata pencaharian dan penurunan pendapatan yang signifikan, sehingga mereka cenderung kembali ke lokasi semula atau mencari lokasi ramai lainnya.
    • Implementasi dan Penegakan Perda yang Belum Optimal:
      • Minim Sosialisasi dan Edukasi: Kebanyakan masyarakat tidak paham aturan / Perda, sehingga jika seseorang timbul kemauannya untuk berdagang, langsung saja dikerjakan kapan dan dimana saja, tanpa memperdulikan aturan dan Perda yang berlaku. 
      • Kurangnya Konsistensi: inkonsistensi dalam pelaksanaan pembatasan di area-area terlarang membuat PKL merasa memiliki peluang untuk kembali berjualan.
      • Pendekatan yang Kurang Tegas: Terkadang, pendekatan yang digunakan dalam penataan PKL lebih bersifat kekeluargaan atau menggunakan "hati nurani", yang berarti kurang adanya ketegasan dalam penertiban.
      • Korupsi. Kolusi, Nepotisme (KKN): Disinyalir adanya peran oknum Ormas yang ikut nimbrung mengutip uang jago kepada para PKL yang berdagang di wilayah kekuasaannya, sehingga para PKL merasa ada yang melindungi dan seolah sah berdagang di lokasi yang bukan peruntukkannya.  Atau disinyalir ada peran oknum Pemda yang malah melindungi para PKL sehingga para PKL tersebut leluasa berdagang di tempat yang bukan semestinya.
      • Tumpang Tindih Aturan: Adanya kebijakan pemerintah daerah yang kadang memasukkan PKL ke trotoar atau area tertentu, dapat bertentangan dengan Perda yang melarang penggunaan fasilitas umum seperti trotoar untuk berdagang, menciptakan ambiguitas dalam penegakan hukum.
    • Ketidaksesuaian Lokasi Binaan (Lokbin):
      • Sepi Pembeli: Banyak PKL menolak direlokasi ke lokasi binaan (lokbin) yang disediakan pemerintah karena tempatnya dianggap sepi pembeli, sehingga pendapatan mereka menurun drastis.
      • Karakteristik Lokasi: Lokasi jualan PKL sangat dipengaruhi oleh aktivitas di sekitarnya. Mereka cenderung memilih lokasi yang ramai dan strategis di mana potensi pembelinya tinggi, seperti di trotoar atau badan jalan, meskipun tahu itu dilarang.
    • Faktor Sosial dan Partisipasi PKL:
      • Minimnya Sosialisasi: Sosialisasi dari dinas terkait perlu dilakukan secara rutin dan berkala, karena banyak pedagang merasa belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai program dan bantuan pemerintah.
      • Keinginan untuk Dibina: Sebagian besar pedagang berharap untuk dirangkul dan dibina secara sistematis oleh pemerintah daerah, memerlukan kepastian hukum dan jaminan keberlanjutan usaha mereka di lokasi yang aman. 
    Mengapa penting melokalisasi para PKL? Lokalisasi PKL tentu tidak sekedar hanya menempatkan mereka di satu tempat, lalu selesai sampai disitu. Lokalisasi PKL sangat besar manfaatnya, diantaranya mencakup fungsi-fungsi sbb:
    1. Fungsi Registrasi 
      • Tidak semua orang yang ingin berdagang atau menjadi PKL serta merta bisa merealisasikan keinginannya itu. Tetapi ada proses dan tahapan yang harus dia jalani. Karena para calon PKL itu adalah Warga Negara dari NKRI yang memiliki aturan, regulasi, dan perundangan yang jelas, sehingga harus tunduk pada aturan, tidak bisa seenaknya sendiri. 
    2. Fungsi Pengawasan
      • Dengan terregistrasinya para PKL, pengawasan terhadap mereka menjadi lebih mudah. Pengawasan mulai dari sumber air untuk masak, bahan baku yang digunakan, misalnya tidak menggunakan zat pewarna yang berbahaya yang bukan diperuntukkan konsumsi makanan. Tidak boleh ada lagi mencuci perangkat bekas makan dengan cara hanya cukup dikobok-kobok di dalam ember yang berisi air, tetapi harus dengan air bersih yang mengalir (PAM) dan sabun. 
      • Penggunaan bahan baku seperti minyak goreng yang sudah berkali-kali digunakan untuk menggoreng sampai warnanya menjadi hitam. 
      • Cara pengolahan makanan yang higienis dan sesuai dengan aturan dan norma.
      • Sumber bahan baku makanan yang jelas, tidak tercemar atau tercampur bahan berbahaya atau dicampur dengan bahan yang non-halal.
    3. Fungsi Pembinaan dan Edukasi
      • Dinas terkait melakukan pembinaan terhadap PKL yang saat pengawasan didapati permasalahan. Semisal tidak menggunakan pewarna tekstil. Atau penggunaan minyak goreng bekas yang sudah menghitam. Dan lain-lain, dan seterusnya. 
      • Dengan pembinaan dan edukasi yang konsisten, konsumen terlindungi dari masalah penyakit yang mungkin timbul akibat dari permasalahan diatas. Sehingga SDM NKRI menjadi lebih sehat. Tidak mudah jatuh sakit yang akhirnya membebani BPJS
    4. Fungsi Pariwisata 
      • Wisatawan dalam dan luar negeri bisa lebih tenang menikmati jajanan dan kuliner dari PKL yang sudah teregistrasi. Bisa menjadi alternatif pilihan bagi yang ingin menikmati makanan yang layak saji tanpa mesti mengorbankan isi dompet. 

    Solusi agar PKL (Kuliner) Di Jakarta bisa berdagang dengan tertib dan tunduk kepada regulasi yang telah ada, adalah sebagai berikut:
    1. Sosialisasi dan Edukasi Regulasi 
      • Melalui jalur pendidikan formal seperti sekolah, madrasah, pesantren dan seluruh komunitas masyarakat yang ada.
      • Melalui sarana komunikasi satu arah seperti bioskop, saluran televisi dan radio, baik milik pemerintah maupun swasta, berupa selingan iklan edukasi.
      • Melalui media sosial online seperti Instagram, Facebook, dll. 
    2. Optimalisasi Implementasi dan Penegakan Perda
      • Melakukan seleksi, pendataan, dan registrasi terhadap seluruh PKL kuliner yang telah memenuhi persyaratan. 
      • Melarang dan menindak (berdasarkan Perda) PKL yang tidak ter-registrasi dan  berkeliling menjajakan dagangannya.
      • Konsistensi Aparat Pemda dalam penegakan Perda yang telah dibuat. Tidak ada kompromi dan rasa kekeluargaan saat penanganan. Konsistensi bisa dalam bentuk penjagaan berkala dan terus menerus. Penyitaan yang langsung diikuti dengan pemusnahan terhadap perlengkapan PKL yang membandel, agar ada efek jera, baik bagi yang bersangkutan maupun juga bagi PKL yang lain. 
      • Pemberian sanksi bagi yang melanggar, demikian juga pemberian penghargaan bagi yang taat kepada aturan. 
    3. Pencarian Lokasi PKL Binaan Setelah Melalui Survei Yang Benar.
      • Sebelum memetakan lokasi yang akan dipakai untuk PKL berdagang, harus melalui kajian yang baik. Penentuan lokasi yang asal-asalan mengakibatkan para PKL enggan menempatinya.
      • Kerjasama dengan pemilik lahan atau gedung dan pusat perbelanjaan serta pusat keramaian dengan skema bagi hasil yang win-win solution. 
    4. Pembinaan dan Pengawasan Berkelanjutan
      • Dinas terkait melakukan pembinaan terhadap seluruh PKL kuliner yang telah di registrasi. 
      • Pengawasan berkala dan berkelanjutan untuk:
        • Sumber air bersih
        • Bahan baku makanan yang jelas sumber nya
        • Penggunaan bahan pewarna dan pengawet yang sesuai untuk makanan
        • Cara penyajian 
        • Peralatan dapur dan memasak
        • Kebersihan piring, gelas, dan sendok garpu  
        • Dstnya.
    Secara keseluruhan, tantangan utama terletak pada penyeimbangan antara kebutuhan ekonomi PKL sebagai sektor informal dan tuntutan ketertiban serta keindahan kota sesuai Perda. Penanganan yang efektif memerlukan pendekatan yang lebih terintegrasi, adil, dan manusiawi, dengan melibatkan solusi ekonomi yang konkret selain penertiban represif. 

    Jakarta sebagai pintu gerbang NKRI, juga sebagai representatif seluruh kota di Indonesia, harus memulai dalam memberi contoh perbaikan, agar bisa menjadi kota yang tertib, rapi, dan bersih. Sehingga bisa menjadi standar barometer untuk seluruh kota se Nusantara. Dan yang terpenting tidak kalah dengan negeri tetangga, khususnya dalam hal PKL kuliner. Mereka sudah berbenah dari sejak beberapa dekade yang lalu. Tidak ada kata terlambat untuk berbenah.



















    Asal Mula Istilah Pedagang Kaki Lima


    Sumber/Pustaka: 

    1. https://www.bbc.com/indonesia/majalah-51955587
    2. https://jdih.jakarta.go.id/dokumen/detail/9188/peraturan-gubernur-nomor-10-tahun-2015-tentang-penataan-dan-pemberdayaan-pedagang-kaki-lima
    3. https://issuu.com/singaporeamerican/docs/lis_oct-nov_21_final/s/13540644
    4. http://makanharry.com/history-of-the-singapore-hawker-centers-part-i/
    5. https://rri.co.id/bandar-lampung/cek-fakta/1216083/asal-mula-istilah-pedagang-kaki-lima
    6. https://www.culturally.co/blog/one-minute-history-singapore-s-hawker-culture?srsltid=AfmBOoqZMDcaWzWxn5CzZ5UWD098eYubGm2lAo_jqI3v7JFxlnf3MZUW
    7. https://kompaspedia.kompas.id/baca/data/foto/gerobak-alat-angkut-multifungsi
    8. Courtesy of National Archives of Singapore.

     

     



    Rabu, 31 Januari 2024

     

    Pijat Bumil & Pijat Nifas


    Saat ini, setelah pandemik Covid -19 mereda, dan dengan berjalannya waktu, mulai semarak lagi pengembangan ketrampilan yang membantu meningkatkan kualitas kesehatan, khususnya terhadap Ibu hamil dan Ibu menyusui. Bumil selain menjalankan kunjungan berkala untuk pemeriksaan kehamilan (ANC = Ante Natal Care), terhadap kesehatan bumil, selain senam hamil, yoga, dll,  juga sudah mulai dipikirkan salah satunya tentang pemanfaatan terapi pijat dalam hal mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi wanita di fase kehamilan dan fase nifas. 

    Sebelum masuk pembahasan topik diatas, alangkah baiknya dibahas terlebih dahulu tentang pijat secara umum. Sejarah pijat itu sendiri sudah cukup panjang, bisa jadi nyaris sama dengan sejarah dimulainya peradaban manusia. Akan tetapi, yang tercatat dan tertulis dalam sejarah, mungkin baru ditemukan buktinya sejak beberapa ribu tahun yang lalu. Detail sejarah terapi pijat bisa dilihat di postingan lain di blog ini yang berjudul SEJARAH & PERKEMBANGAN TERAPI PIJAT.


    Pijat Pra-kelahiran; Pijat Ibu Hamil - Pijat Bumil

    Pijat yang dilakukan selama kehamilan dapat membantu meredakan ketegangan otot, mengurangi kecemasan dan depresi, serta membantu mengatasi nyeri sendi.

    Manfaat Pijat Kehamilan

    • Mengurangi nyeri punggung dan pinggul
    • Mengurangi nyeri sendi
    • Memperbaiki sirkulasi
    • Mengurangi pembengkakan
    • Mengurangi ketegangan otot dan sakit kepala
    • Mengurangi stres dan kecemasan
    • Tidur yang lebih baik
    Asosiasi Kehamilan Amerika mengatakan bahwa bumil dapat mulai melakukan pijatan kapan saja selama masa kehamilan.
    Akan tetapi, banyak fasilitas kesehatan yang menolak menawarkan pijat kepada wanita yang masih berada di trimester pertama karena alasan peningkatan risiko keguguran terkait dengan 12 minggu pertama kehamilan.
    Terdapat titik-titik di tubuh yang diduga dapat memicu kontraksi atau berpotensi menginduksi persalinan, sehingga memerlukan izin dokter untuk menangani bumil di trimester pertama kehamilan mereka.

    Pre-eklamsia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan pembengkakan pada wajah, tangan, dan kaki, peningkatan tekanan darah, retensi cairan berlebihan, dan protein dalam urin.
    Kadang-kadang disertai dengan sakit kepala parah (atau migrain) dengan atau tanpa“floaters” optik.
    Jika dicurigai atau dipastikan mengalami Pre-eklamsia, semua pemijatan harus dihindari sampai tekanan darahnya stabil dan pastikan bahwa Ibu dan janinnya keluar dari bahaya.

    DVT (Deep Vein Thrombosis) adalah salah satu masalah gangguan sirkulasi pembuluh darah balik yang mungkin bisa dijumpai pada ibu hamil. Ditandai dengan kaki bengkak, nyeri berdenyut dan atau kram di kaki, kemerahan atau perubahan warna kulit lainnya di kaki, rasa raba hangat pada kulit di area yang terkena. Gejala hampir selalu terbatas pada satu kaki. Jika dijumpai kondisi seperti ini, bumil tidak boleh dilakukan pemijatan!!


    Pijat Pasca-kelahiran; Pijat Nifas

    Adalah pijatan yang diterima kapan saja setelah melahirkan sampai dengan satu tahun pasca melahirkan. Dapat dilakukan dalam 12 minggu pertama setelah melahirkan. 
    Masa nifas adalah masa pemulihan pasca persalinan hingga seluruh organ reproduksi wanita pulih kembali sebelum kehamilan berikutnya. Berlangsung sekitar 6-8 minggu pasca persalinan.
    Pijat pasca-persalinan atau pijat masa nifas merupakan pijat seluruh tubuh yang dapat membantu memudahkan wanita menjadi ibu dengan menawarkan kedua manfaat, fisik dan emosional.

    Manfaat pijat pasca-kelahiran
    • Mengatasi depresi
    • Relaksasi otot
    • Meredakan nyeri leher dan kepala
    • Mengurangi nyeri di pergelangan tangan
    • Mengurangi sakit punggung
    • Regulasi hormon
    • Mengurangi pembengkakan
    • Menjadikan tidur yang lebih baik
    • Peningkatan produksi ASI
    • Mengurangi Stretch Mark

    Hindari pemijatan dengan kondisi sbb:
    • Demam
    • Sedang menderita penyakit menular semisal TB
    • Tekanan darah tinggi
    • Neuritis
    • Penyakit kulit
    • Sedang mengkonsumsi alcohol atau obat anti nyeri, atau obat antikoagulan
    • Penyakit jantung bawaan atau pre-eklampsia
    • Osteoporosis, Cancer, Epilepsy
    • Pijat perut tidak dianjurkan selama 6 minggu setelah melahirkan sesar
    • Operasi atau cedera yang baru saja terjadi.
    • Gangguan pembekuan darah
    • Transplantasi organ baru-baru ini

    Persiapan sebelum pemijatan
    • Ruangan yang bersih dan higienis.
    • Perlengkapan penunjang yang memadai, termasuk ranjang pijat berkualitas tinggi dengan bantal dan celah untuk mengistirahatkan perut; selimutyang memadai.
    • Pemanfaatan lilin atau aroma terapi alami.
    • Pemanfaatan minyak pijat esensial atau atsiri atau lotion pelembab.
    • Pencahayaan yang adekuat.
    • Lingkungan yang tenang.
    • Pengaturan suhu ruangan yang pas.
    • Musik lembut.
    • Pemberian minuman tradisional semisal jus kunyit (biasanya setelahnya).

    Persiapan terapis sebelum pemijatan
    • Istirahat cukup, berpenampilan segar dan fit
    • Kebersihan diri (personal hygiene) yang baik
    • Kuku jari tangan jangan dibiarkan panjang
    • Rambut di ikat atau dijepit rapi
    • Memakai baju terapi yang nyaman
    • Jika perlu, pakai masker
    • Siapkan alat pengukur tekanan darah, thermometer, timer.
    • Biasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah pemijatan.
    • Hindari bekerja sambil memainkan gawai

    Kapan waktu yang cocok untuk pemijatan pasca-kelahiran?
    • Segera pasca melahirkan, sehari setelah melahirkan
    • Tidak ada batas waktu pasti seberapa sering harus melakukan pijatan pasca melahirkan. Waktu, kemampuanfinansial, dan pertimbangan kesehatan semuanya dapat mempengaruhi keputusan tentang seberapa sering melakukan pemijatan.
    • Karena tubuh baru saja melalui banyak proses selama masa persalinan, penting untuk tidak memberikan rangsangan berlebihan pada beberapa hari pertama pasca persalinan.
    • Jika pijatan pasca persalinan terlalu dalam, dikuatirkan dapat meningkatkan ketegangan karena tubuh Bunda belum pulih.

    Posisi pijat pasca persalinan
    Posisi apapun aman setelah melahirkan, tetapi dapat disesuaikan dengan kenyamanan atau perawatan khusus anda.
    Beberapa ibu mendambakan bisa berbaring telungkup lagi setelah berbaring miring selama hampir  sembilan bulan.
    Mungkin ada yang merasa tidak nyaman saat posisi menghadap ke bawah karena ketidaknyamanan pada payudara atau gangguan ASI yang bocor.
    Posisi berbaring miring terasa nyaman dan sangat efektif untuk mengatasi masalah tertentu pada bahu, panggul, atau kaki.


    Bisakah bunda membawa serta bayinya saat sesi pemijatan?
    Bayi baru lahir biasanya banyak tidur dan terapis berpengalaman akan menyesuaikan rutinitas bayi jika diperlukan (menyusui, dll).
    Waktu tambahan mungkin diperlukan jika membawa sikecil, jadi komunikasikan untuk mendapatkan persetujuan terlebih dahulu.




    Kamis, 25 Januari 2024

    Sejarah & Perkembangan Terapi Pijat 



    Sejarah pijat itu sendiri sudah cukup panjang, bisa jadi nyaris sama dengan sejarah dimulainya peradaban manusia. Akan tetapi, yang tercatat dan tertulis dalam sejarah, mungkin baru ditemukan buktinya sejak beberapa ribu tahun yang lalu. 

    Banyak orang berpikir bahwa terapi pijat adalah tren modern yang didorong oleh para praktisi penyembuhan alami. Hal ini sebagian benar. Manfaat medis dari terapi pijat memang sedang digembar-gemborkan akhir-akhir ini, tapi ini bukanlah hal baru. Terapi pijat adalah bagian dari sistem metode penyembuhan holistik tradisional yang baru bisa diketahui melalui penemuan arkeologi sejak sekitar 5.000 tahun yang lalu.

    Sejarah terapi pijat dimulai pada tahun 3000 SM (atau lebih awal) di India, yang dianggap sebagai sistem penyembuhan alami yang sakral. Digunakan oleh umat Hindu dalam pengobatan “kesehatan hidup” Ayurveda, terapi pijat adalah praktik yang diturunkan dari generasi ke generasi untuk menyembuhkan luka, menghilangkan rasa sakit, dan mencegah serta menyembuhkan penyakit. Penganjur Ayurveda percaya bahwa penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan manusia dengan lingkungan. Pijat dipercaya dapat mengembalikan keseimbangan alami dan fisik tubuh sehingga bisa sembuh secara alami.

    Seiring dengan berkembangnya budaya dan sejarah, metode penyembuhan pijat juga dijumpai di Tiongkok dan Asia Tenggara sekitar 2700 SM. Metode pijat Tiongkok dikembangkan sebagai kombinasi keterampilan dan praktik pengobatan tradisional Tiongkok, seni bela diri, dan pelatihan yoga spiritual umat Buddha dan Tao. Metodenya serupa dengan metode yang berasal dari India, berdasarkan keyakinan bahwa penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan atau defisiensi energi di berbagai jalur meridian. Orang Tiongkok kuno mengembangkan sebuah teks yang disebut Buku Klasik Penyakit Dalam Kaisar Kuning yang saat ini dianggap sebagai dasar pengobatan alternatif terapi pijat (akupunktur, akupresur, dan pengobatan herbal).

    Pada tahun 2500 SM, terapi pijat tercatat sampai ke Mesir dan dijumpai dalam lukisan makam. Orang Mesir memiliki ciri khas mereka sendiri dan salah satunya dengan mengembangkan pijat refleksi, yang melibatkan pemberian tekanan pada titik atau zona tertentu di (telapak) kaki dan tangan untuk menghasilkan efek penyembuhan.

    Belakangan, para biksu yang mempelajari agama Buddha di Tiongkok membawa terapi pijat ke Jepang pada tahun 1000 SM dan menerapkan metode mereka sendiri, menyebutnya “anmo”, yang kemudian dikenal sebagai Shiatsu. Teknik pijat ini dirancang untuk mengatur dan memperkuat organ dengan menyeimbangkan kembali tingkat energi melalui stimulus di titik-titik tekanan dengan harapan dapat memberikan ketahanan alami terhadap berbagai penyakit.

    Pengaruh Mesir juga sampai ke Yunani dan Romawi yang menggunakan terapi pijat dengan cara berbeda. Di Yunani, antara tahun 800 dan 700 SM, para atlet menggunakan pijatan untuk mengkondisikan tubuh mereka sebelum bertanding, dan dokter sering kali menggunakan ramuan dan minyak yang dikombinasikan dengan pijatan untuk mengobati berbagai kondisi medis. Hippocrates, “Bapak Kedokteran,” mengobati cedera fisik pada abad ke-5 SM dengan teknik friksi, teknik pijat, dan merupakan orang pertama yang meresepkan kombinasi pijat, diet yang tepat, olahraga, udara segar, dan musik untuk memulihkan ketidakseimbangan kesehatan – resep manjur yang kita dengar bahkan sampai hari ini.

    Galen, tabib Romawi, pada abad ke-1 SM, menggunakan terapi pijat untuk para kaisar, sejalan dengan gagasan Hippocrates dalam mengobati cedera dan penyakit. Orang Romawi yang kaya-raya melakukan pijat di kediaman mereka, namun masyarakat umum akan berbondong-bondong ke pemandian Romawi untuk perawatan “spa” dan pijat seluruh tubuh, guna merangsang sirkulasi dan mengendurkan persendian dan otot yang kaku.

    Popularitas terapi pijat  di Barat menurun hingga abad ke-17, ketika penemuan baru di bidang farmakologi dan teknologi medis mengubah pengobatan modern. Namun, masih banyak dokter yang melihat dan merasakan manfaat pijat bagi kesehatan.

    Di awal tahun 1800-an,seorang dokter, yang juga seorang pesenam, sekaligus guru di Swedia, bernama  Per Henrik Ling, menciptakan metode yang dikenal sebagai Penyembuhan Metode Swedia untuk membantu meredakan nyeri kronis. Senam medis serupa fungsinya seperti terapi pijat,  merupakan cikal bakal dari apa yang sekarang di kenal sebagai Pijat Swedia – sebuah gaya yang melibatkan gerakan membelai, menekan, meremas, dan memukul.

    Meskipun metode Ling menggunakan pijatan dalam gerakannya, Johan George Mezger dari Belanda (abad ke-19) dipuji karena menggabungkan teknik yang digunakan hingga saat ini:
    • Effleurage, adalah gerakan meluncur yang panjang dari ekstremitas ke dalam dengan berbagai tingkat tekanan.
    • Petrissage, suatu teknik yang berirama dan termasuk gerakan menguleni, menggulung kulit, mengangkat atau mendorong-tarik.
    • Tapotement, pukulan/ketukan yang dilakukan dengan sisi tangan, tangan yang ditangkupkan, atau ujung jari yang digunakan dalam pijat Swedia.
    • Gesekan, adalah teknik yang menuntut fisik, terdiri dari gerakan dalam, melingkar atau menyilang dengan ibu jari, ujung jari, telapak tangan atau siku, dirancang untuk menembus jaringan dalam.

    Awal tahun 1700-an, “Rubbers” (wanita yang dikaryakan oleh ahli bedah ortopedi untuk membantu mengatasi masalah pembedahan dengan gesekan manual) juga adalah praktisi pijat pada masa itu. Namun, di tahun 1850-an, mereka mulai menggunakan gerakan dan manipulasi, seperti yang dikembangkan oleh Ling, untuk melakukan cara yang sama. Pelatihan komprehensif mereka mencakup pemahaman tentang anatomi, fisiologi, kebersihan, patologi dan gerakan yang mereka praktikkan di rumah sakit dan klinik.

    Pada akhir tahun 1800-an, julukan atau gelar “masseur” dan “masseuse” (keduanya adalah istilah terapis pijat) menjadi populer. Para praktisi ini dilatih dalam manipulasi jaringan lunak ala Mezger. Hidroterapi digunakan bersamaan dengan pijat pada saat ini dan dapat dianggap sebagai cikal bakal layanan spa saat ini, termasuk body wrap dan lulur.

    Luar biasanya, pijat seluruh tubuh menjadi bagian dari “obat penenang” untuk melankolis yang dikenal sebagai neurasthenia yang populer di kalangan wanita kaya di akhir tahun 1800-an.

    Permintaan akan terapis pijat dan pemijat meningkat di awal tahun 1900-an. Di tahun 1930-an, pijat Swedia telah berkembang, dan fisioterapis yang menggunakannya dalam pengobatan biasa membantu meningkatkan derajat terapi pijat menjadi bentuk pengobatan yang diakui dan terhormat.

    Setelah terapi fisik dilisensikan pada tahun 1950an, di Amerika Serikat terapi pijat memiliki kategorinya sendiri. American Massage Therapy Association (AMTA) telah didirikan dan meletakkan dasar bagi praktisi pijat masa kini dengan menetapkan standar etika dan pendidikan.

    Antara tahun 1970 dan 2000, terapi pijat mengalami transformasi, ketika masyarakat mulai menyadari dan memilih untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat dengan lebih memilih pendekatan yang lebih holistik dalam perawatan kesehatan, manajemen nyeri, serta pemulihan dan pemeliharaan kesehatan tubuh. Hingga saat ini, sudah banyak orang menyadari bahwa “pijat adalah obat yang manjur”.

    Pijat di AS benar-benar mendapat peningkatan pada tahun 1980an karena manfaatnya bagi para atlet. Selama Olimpiade Musim Panas 1984 di Los Angeles, terapi pijat digunakan untuk para atlet. Banyak orang yang menonton TV di rumah mendapatkan pandangan pertama tentang bagaimana pijat telah digunakan. Dorongan besar lainnya terjadi pada Olimpiade Musim Panas 1996 di Atlanta. Ini adalah tahun dimana terapi pijat ditawarkan sebagai pengobatan inti untuk Tim Olimpiade AS. Sejak saat itu, pijat terus menyebar di bidang atletik dan bisnis. Perusahaan-perusahaan besar telah mempekerjakan terapis pijat untuk organisasi mereka, seperti Departemen Kehakiman AS, Boeing, Google, dan Reebok.

    Di zaman modern, terapis pijat mempraktikkan banyak teknik yang semuanya berakar pada metode kuno tersebut. Dan meskipun praktiknya melibatkan hal ini, tujuan keseluruhannya tetap sama. Terapi pijat terus dimanfaatkan untuk mempertahankan keseimbangan, menyembuhkan cedera fisik dan emosional serta meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.

    Secara umum, terapis menekan, menggosok, dan memanipulasi otot dan jaringan lunak tubuh luar. Mereka paling sering menggunakan tangan dan jari, namun mungkin juga menggunakan lengan bawah, siku, atau bahkan kaki.

    Dalam pijat Swedia, terapis menggunakan teknik pukulan dengan jeda yang cukup panjang, menguleni, gerakan melingkar dalam,getaran, dan ketukan. Pijat olahraga mirip dengan pijat Swedia, diadaptasi secara khusus dengan kebutuhan atlet. Di antara banyak contoh lainnya adalah pijat jaringan dalam dan pijat titik pemicu (trigger point), yang berfokus pada titik pemicu nyeri myofascial—yaitu “simpul” otot nyeri saat ditekan dan dapat menyebabkan gejala di tempat lain di tubuh.

    Terapis pijat bekerja di berbagai lingkungan, termasuk klinik swasta, rumah sakit, keperawatan rumah, studio, dan fasilitas olahraga & kebugaran.   Beberapa juga melakukan kunjungan  ke rumah pasien atau tempat kerja (kantor). Mereka juga berusaha mengusahakan lingkungan yang tenang dan menyejukkan untuk mendapatkan hasil terapi yang maksimal.

    Terapis pijat sebelumnya akan bertanya kepada pasien baru tentang gejala, riwayat kesehatan, dan hasil yang diharapkan. Mereka juga dapat melakukan evaluasi melalui sentuhan, untuk menemukan area yang nyeri atau tegang dan menentukan seberapa besar tekanan dan lama waktu yang akan diberikan.

    Biasanya, pasien berbaring di atas meja/ranjang khusus pijat, baik dengan pakaian longgar atau tanpa pakaian (ditutupi dengan selembar handuk atau kain, kecuali area yang dipijat). Terapis mungkin memanfaatkan minyak, lotion, atau krim untuk menguranginya gesekan pada kulit. Terkadang, orang dapat menerima terapi pijat sambil duduk di kursi. Sesi pijat bervariasi,  mungkin cukup singkat, tapi bisa juga berlangsung satu jam atau bahkan lebih lama.

    Mengingat sejarah panjang pijat, penggunaannya dalam pengobatan Barat baru saja dimulai. Masih ada potensi besar untuk pertumbuhan terapi pijat, dan permintaan masyarakat terhadap terapi pijat selalu tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Massage Therapy Association, saat ini terdapat sekitar 300.000 terapis pijat di Amerika Serikat. Sementara di Indonesia belum memiliki data resmi. Menurut sumber berita Antara Bali, Jumat, 7 Oktober 2022 18:20 WIB, bahwa sedikitnya terdapat 10 ribu terapis SPA di Bali yang akan di sertifikasi. 













    Jumat, 19 Maret 2021

    AKUPUNTUR UNTUK TONIK 

    ORGAN REPRODUKSI 


    Profesional medik mendefinisikan Infertilitas sebagai ketidak mampuan untuk menjadi hamil selama satu tahun periode hubungan suami istri yang tidak di proteksi. Berdasarkan CDC (Centers of Disease Control and Prevention) 12% wanita di rentang usia 15-44 tahun terdampak infertilitas. Dari 35% pasangan yang bermasalah dengan kesuburan, diantaranya 8% pria terindentifikasi memiliki masalah atau gangguan.

    Akupuntur adalah ilmu dan metode pengobatan timur kuno atau tradisional yang berasal dari Negeri Tiongkok, yang sampai dengan saat ini masih dan tetap dimanfaatkan oleh masyarakat dunia untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan. Akupunturis memanfaatkan jarum halus dan solid yang ditusukkan ke titik-titik akupuntur spesifik di tubuh manusia untuk menstimulasi aliran darah di dalam jaringan tubuh.

    Akupuntur dapat membantu mengatasi masalah infertilitas, berperan dalam hal:
    • meningkatkan sirkulasi darah ke target organ reproduksi
    • mentonik (menguatkan) kinerja organ reproduksi
    • menyeimbangkan hormon yang berkaitan dengan fertilitas
    • meredakan stress

    Perlu diketahui, bahwasanya sampai dengan saat ini, belum ada kesimpulan dari hasil penelitian yang menegaskan bahwa akupuntur dapat 100% membantu mengatasi masalah infertilitas. Akan tetapi dari beberapa pengalaman pasangan yang sudah menjalani sesi akupuntur, mereka merasakan manfaat nya, walau tidak dapat secara spesifik diuraikan.

    Biasanya pasangan yang ingin menjalankan sesi akupuntur untuk infertilitas, setelah melalui serangkaian konsultasi dan pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan (untuk pasangan wanita) dan spesialis andrologi (untuk pasangan pria).

    Adapun waktu yang sesuai untuk memulai sesi akupuntur infertilitas adalah pada saat pertengahan masa menstruasi sampai dengan masa ovulasi. Interval kunjungan 2x seminggu @ 45-60 menit per tiap kali kunjungan. 

    Beberapa Lokasi Titik Akupuntur Reproduksi

    Rabu, 06 Januari 2021

     

    Acupuncture effective in COVID-19 recovery     As patients recover from Covid-19, there are multiple issues they suffer.

    Published: 02nd August 2020 05:00 AM  |   Last Updated: 01st August 2020 04:54 PM  |  A+A-

    Acupuncture

    For representational purposes

    As patients recover from Covid-19, there are multiple issues they suffer. The commonest ones persisting even after two weeks of testing negative are:
    1. Cough with a sore throat
    2. Fatigue
    3. Post-Covid-19 lung disease
    4. Anxiety, depression, insomnia
    5. Cognitive issues similar to moderate traumatic brain injury
    6. Digestive problems like bloating, imitable bowel, nausea and vomiting, abdominal pain

    The problem of persistent cough after recovering from a Covid-19 attack is common. Acupuncture is found to be 90 percent effective in such cases without side effects. Patients will typically complain of dry cough, throat irritation and scanty white phlegm. In the acupuncture group, patients were needled at Lu.10, Lu.1, Lu.5, Lu.6, Lu.7, ST.25, ST.36 and T.40. The total treatment sessions were s10 and each session was 30-minute long.

    In the medication group, patients were given Methoxyphenamine capsules thrice a day for 10 days and the success rate was 700 percent. Patients develop fatigue following Covid-19 illness due to the depletion of their Qi because of hypoactivity of the Hypothalamic-pituitary axis. Acupuncture was given at selected acupoints P.6, ST.36, SP.6, Liv.3, Ren.4, Du.20, Ub.23 for five days in a week for two weeks, and 80 percent patients showed improvement in fatigue levels. After getting Covid-19, lung disease can be effectively tackled using acupuncture and moxibustion. The principle is to promote, regulate, and stimulate the body’s self-regulating function. Most of these patients have symptoms similar to COPD due to damage to lung parenchyma caused by pneumonitis. 

    Anxiety, depression and insomnia are common in such patients and these can be effectively tackled by stimulating specific acupoints which release melatonin and the happy hormone, serotonin. Many patients who have recovered from Covid-19 illness complain of a lingering cognitive impact—problems with their memory and inability to stay focussed. This is caused due to the body’s response to infection which leads to blood becoming extremely sticky. This is particularly seen in patients who stayed in the ICU.

    Early studies on this problem have shown that acupuncture given at points LI.4, Li.11 DU.20, ST.36, ST.40, GB.34 shishencong, P.6, H.7, Du.16, Liv.3, improved cognitive ability. Treatment was given over four weeks, five days a week, for a 30-minute session. Post Covid-19, digestive symptoms such as nausea and vomiting, loss of appetite, bloating, abdominal pain and irritable bowel persist. Patients were given acupuncture thrice a week for four weeks.

    The major cause of these symptoms is the impact on the spleen, stomach, and the liver. Acupuncture promotes gastric peristalsis in subjects with low-intensity gastric motility and suppresses peristalsis in those with acute initial motility. Almost 70-80 percent patients showed improvement in their symptoms with acupuncture, which is a safe, efficacious treatment without any side effects.

    The author is Head of the Department of Acupuncture, Sir Ganga Ram Hospital, Delhi

    Source: https://www.newindianexpress.com/magazine/2020/aug/02/acupuncture-effective-in-covid-19-recovery----2177001.html

    Senin, 24 Agustus 2020

    Akupunktur Anestesia

    Di Indonesia, sampai dengan saat ini tidak kurang para akupunkturis yang masih penasaran dengan akupunktur anestesi. Istilah akupunktur anestesi perlu dibedakan dengan akupunktur analgesia. Di bawah ini, disampaikan deskripsi sederhana tentang akupunktur anestesi. Diharapkan juga masukan dan tanggapan serta diskusi dari pembaca lainnya untuk ikut menambah wawasan dan pengetahuan terutama di bidang ilmu pengobatan akupunktur tradisional Tiongkok.

    Akupunktur analgesia
    Akupunktur analgesia adalah yang diproduksi oleh penjaruman dengan menggunakan jarum akupunktur di titik akupunktur tertentu di tubuh. Hal ini mengaktivasi serabut saraf halus bermyelin, yang terdapat di otot, dimana rangsangan tersebut  di lanjutkan ke spinal cord dan kemudian mengaktifkan 3 pusat – spinal cord, midbrain, dan pituitary/hypothalamus – untuk menghasilkan (Efek) analgesia. 

    Akupunktur anestesia
    Tahun 1958, adalah awal mula perkembangan akupuntur anestesi di Tiongkok, dan mencapai puncaknya saat era revolusi kebudayaan.
    Tahun1971, kantor berita RRC - Xinhua, secara resmi mengumumkan ke seluruh dunia tentang keberhasilan akupuntur untuk anestesia.  Merupakan lompatan besar dalam sejarah pengobatan tradisional Tiongkok, khususnya akupunktur. Akupuntur anestesia di Tiongkok sudah melakukan lebih dari 400,000 penelitian klinis, dan telah di cobakan ke ratusan jenis operasi. 

    Di tahun 1972,  Nixon, Presiden Amerika Serikat pertama yang berkunjung ke negeri Tiongkok, sekaligus Tiongkok membuka diri terhadap negeri Barat. Negara-negara Barat sangat kagum dengan kebudayaan Tiongkok, termasuk pengobatan tradisional akupunktur yang mereka anggap luar biasa, karena bisa juga sebagai akupunktur anestesi. Negara Barat juga dibuat gempar, karena Tiongkok mengundang para wartawan dari seluruh dunia, untuk menyaksikan langsung kehebatan akupunktur anestesia saat operasi SC (Sectio Caesarea). Dari sejak itulah, ilmu akupunktur mulai mendunia, menyebar termasuk sampai ke Indonesia. 

    Tahun 1976, Tiongkok menerbitkan perangko edisi khusus untuk memperingati keberhasilan pengobatan tradisional Tiongkok yang sudah menyebar sampai ke seluruh dunia. 

    Tahun 1979, sudah lebih dari 2 juta kasus bedah dilaporkan dengan memanfaatkan akupunktur anestesia, sehingga masyarakat seluruh daratan Tiongkok pun tahu, kalau akupunktur bisa digunakan untuk anestesia. 

    Akan tetapi, setengah abad tak terasa telah berlalu, lama kelamaan masyarakat Tiongkok sudah tidak peduli lagi dengan akupunktur anestesia. Mengapa ini sampai terjadi?  Karena penelitian akupunktur anestesia dari hasil laporan penelitian kasus, ternyata tidak cukup waktu dan percobaan. Jadi hasil yang selama ini di gembar-gemborkan tidak sesuai dengan kenyataan. Yang sebenarnya adalah cara propaganda semata untuk menyebarluaskan ilmu akupunktur ke seluruh dunia. 

    Kebaikan akupunktur anestesia, diantaranya: 

    • Mengurangi efek samping obat anestesi, sangat cocok untuk orang yang allergi terhadap obat-obatan anestesi.
    • Pasien dapat tetap sadar / terjaga sepanjang proses anestesi. Fungsi fisiologis tetap dalam batasan normal.  Pasien dapat bekerjasama dengan dokter bedah nya untuk kasus bedah tertentu,  terutama pembedahan di saraf otak. 
    • Lebih cocok untuk kasus kedaruratan, misal di daerah rural dimana sarana dan obat minim tersedia. 


    Bukti-bukti (kekurangan) bahwa akupunktur anestesia tidaklah benar-benar berfungsi sesuai namanya, men-anestesia, adalah sebagai berikut:
    • Akupunktur anestesia tidak benar-benar bisa membuat rasa nyeri 100% hilang,  otot sisi pembedahan tidak menjadi kendur/rileks, organ dalaman  tetap teregang. Dari penelitian lanjutan ternyata akupunktur anestesi tidak mampu mengendurkan otot sekitar tempat operasi mau dilakukan, dan organ dalaman semisal gerakan peristaltik usus, tidak ada perubahan. Sehingga akupunktur dianggap gagal melakukan tugasnya untuk meredakan 100% nyeri, apalagi untuk anestesi. 
    • Akupunktur anestesia pada kenyataannya tidak diterima dengan baik oleh ahli bedah, bahkan para ahli bedah tidak menganjurkan pemanfaatan akupunktur anestesi untuk membantu membius pasien pre-operasi. Hal ini dikarenakan hasilnya yang tidak stabil dan tidak mampu 100% menghilangkan rasa nyeri pre-operasi. Akupunktur anestesia hanya berhasil pada sebagian kecil orang yang memang sensitif terhadap penjaruman. Sebagian orang lagi bahkan tidak merespons sama sekali!
    • Dokter bedah harus menggunakan pisau bedah yang sangat tajam kalau mau memanfaatkan akupunktur anestesia, supaya rasa sakit akibat sayatan bedah tidak terlalu terasa. Dokter bedah juga harus bekerja secara cepat dan tenang, supaya pasien tidak menjadi gelisah. 15-30 menit sebelumnya, juga diperlukan suntikan obat penenang ke pasien pre-akupunktur anestesia. 
    • Stimulasi dengan penggunaan stimulator di jarum akupunktur harus tanpa jeda terus menerus dilakukan untuk menjaga agar jangan sampai pasien merasakan nyeri. 
    • Akupunktur anestesia masih mampu mengatasi nyeri di (permukaan) kulit, tapi tidak berdaya mengatasi ketegangan otot dan gerakan organ dalam. Sehingga masih tetap dibutuhkan suntikan Procaine untuk mengatasinya. 

    Jadi pada kenyataannya, terungkap bahwa hasil laporan terdahulu tidaklah murni 100% mengandalkan akupunktur anestesia guna meredakan nyeri sebelum dan selama operasi berlangsung.  
    Kenyataannya pula, sejak 1958 di mulainya penelitian akupunktur anestesia, pasien yang perlu di operasi ulang oleh karena berbagai sebab, tidak satupun yang mau lagi menggunakan akupunktur anestesia sebagai pereda nyeri operasi. 

    Maka dari itu, saat ini kalau kita menanyakan soal akupunktur anestesia di institusi pendidikan maupun rumah sakit pendidikan Di Tiongkok, selalu dijawab, bahwa mereka sudah lama tidak mengajarkan, apalagi mempraktekkannya ke pasien. Alasannya saat ini ilmu kedokteran sudah sedemikian maju, tidak ada lagi alasan yang dapat membenarkan penggunaan akupunktur untuk anestesia. Karena hal itu sama saja mengingkari kemajuan ilmu kedokteran khususnya di bidang anestesia. Sungguh jawaban yang sangat realistik!!!

    Di Tiongkok modern saat ini, hampir tidak ada satu dokter bedah pun yang mau melakukan pembedahan jika pasiennya menggunakan akupunktur anestesia sebagai pereda nyeri pre dan selama operasi. 
    Demikian juga halnya dengan dokter ahli anestesia, nyaris tidak ada yang berminat sama sekali memanfaatkan akupunktur untuk anestesi.
    Alasan lain tidak menggunakan akupunktur anestesi adalah untuk efisiensi waktu dan biaya.
    Dan alasan yang paling utama adalah tentunya untuk kepentingan pasien. Pasien perlu kepastian, ketenangan, keamanan, dan kenyamanan. 
    Pun jika mau jujur ditanyakan ke ahli akupunktur anestesia, apakah dia sendiri bersedia menggunakan teknik akupunktur anestesia jika satu waktu dirinya harus menjalani tindakan operasi, yakin dengan seyakinnya, jawabannya adalah "TIDAK!".  

    Akan tetapi, Akupunktur anestesia Di Tiongkok bukan berarti sudah benar-benar tidak ada lagi. Akupunktur anestesia Di Tiongkok tetap masih eksis, bahkan tidak putus-putusnya dilakukan penelitian dan pengembangan, juga karena merupakan bagian dari kebanggaan dan penghormatan Bangsa Tiongkok atas budaya dan pengobatan tradisional nya. Tetapi dilakukan terbatas hanya di pusat studi tertentu dan untuk kasus langka yang memang membutuhkan tindakan anestesia dengan akupunktur. Atau untuk keperluan Show Off semata. 

    Demikian sekilas perjalanan akupunktur anestesia di negeri asalnya Tiongkok. Jadi, masihkah kita disini tertarik dan mau mempelajari ilmu (akupunktur anestesia) yang di negeri asalnya sendiri sudah lama ditinggalkan, bahkan mungkin perlahan dilupakan pemanfaatannya?